Malu Itu Baik

OPINI | 03 November 2011 | 15:22 15 0 1 dari 1 Kompasianer menilai aktual


 

13203085041223530547Gambar dari: iloveislam.com

Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Perkataan (sabda) Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu.” (HR  Bukhari, Abu Dawud, Ahmad)

Jangan salah, hadits di atas pemahamannya bukan berarti bahwa Rasulullah memberikan kebebasan yang membawa manfaat, melainkan mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu melakukan apa saja yang dia kehendaki dan risikonya ditanggung sendiri. Ungkapan itu seperti firman Allah Swt.: “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Fushshilat: 40)

Malu bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Perbuatan yang akan membuatnya merasa dikejar-kejar rasa bersalah. Dengan malu pula, kita bisa mencegah diri ketika akan melakukan dosa. Secara naluri memang demikian, siapapun orangnya yang masih punya hati nurani. Dan memang hanya rasa malu yang mampu membawa kepada kebaikan.

Sabda Nabi yang mulia: “Malu hanya membawa kepada kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga kita supaya sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, bila ada pedagang yang rakus atau tamak lantas berani menipu, lalu dia sadar dan merasa bahwa perbuatannya itu bertolak belakang dengan keimanan dan agamanya, dia pun merasa malu untuk melakukan kebiasaannya, sehingga akhirnya dia hanya ingin menjadi pedagang yang jujur, luwes, dan dapat dipercaya, maka selamatlah dia. Namun lebih parah lagi, bila ada orang yang sudah sadar bahwa dia telah melakukan perbuatan yang salah, tapi ternyata masih getol melakukannya. Benar-benar orang tersebut tidak punya rasa malu.

Tanpa kita sadari, ternyata kita sering mengabaikan sikap yang satu ini. Entah karena kita sudah merasa bahwa tak perlu punya rasa malu lagi, atau memang tak tahu malu. Pepatah baik yang disampaikan kepada kita dari siapapun sering kali kita mendiamkannya. Padahal, saat itu kita sedang melakukan perbuatan yang memalukan.

Juga jangan merasa aman-aman saja ketika kita melakukan korupsi, misalnya. Dengan alasan, bahwa orang lain pun melakukan hal yang sama. Adalah keliru kalau menganggap bahwa kejadian memalukan apabila dilakukan bersama dan saling melindungi akan selesai dan aman. Dan ternyata kita pun harus menanggung rasa malu karena sekarang ini orang lebih banyak melakukan perbuatan yang memalukan.

Tinggal satu masalahnya, diakui atau tidak, ternyata kita masih lebih malu kepada manusia dibanding malu kepada Allah. Kita akan gelagapan ketika perbuatan curang kita ketahuan orang lain. Sementara ketika kita meninggalkan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya, kita cuek saja tanpa punya rasa bersalah dan malu untuk tidak melakukannya lagi.

Sabda Rasul saw.:“Allah Swt. itu lebih berhak untuk dimalui daripada manusia (harus lebih malu oleh Allah daripada oleh manusia).” (HR Ashabu Sunan)